Minggu, 08 Maret 2009

Rabu, 14 Januari 2009

Dinamika Cinta

YOHANA GADIS LIO YANG DINAMIS

( Maximus Masa )

Pembicaraan yang berlangsung pada malam yang larut melahirkan sebuah harapan baru yang menjadi moment penting dalam mengawali diskusi panjang pada masa yang akan datang. Kiranya pembicaraan yang terjadi tidak menjadi yang pertama di antara kita. Pembicaraan itu penting dalam menuangkan ide sekaligus sebagai tanda untuk mengenal siapa dan bagaimana sebenarnya kita sesungguhnya. Hari kemarin mungkin bagi kita adalah misteri yang syarat dengan selaksa rahasia. Hal ini karena jarak yang membuat kita menjadi makluk yang sedang bersembunyi di balik rahasia kehidupan. Dan rahasia itu baru dapat tersingkap ketika kita memulai untuk bertemu dalam nada persahabatan.

Yohana, gema suaramu dalam getaran deringan telepon bisu menjadikan aku berlayar di samudera raya yang luas. Entah bagaimana suaramu membuatku tenggelam dalam arus jaman yang eksotis sekaligus mengungkap segala apa yang menjadi bagian dalam hidup ini dan apa yang di dalamnya ada kemanisan yang menyakitkan dan kepahitan yang menawan rasa rindu, kau memang ada seorang teman sekaligus sahabat yang sedang belajar menuntun ilmu di daerah Yogyakarta sana. Ia bertekad melindungi dan membelamu dan berharap kau tetap sehat dalam bimbingan kasih Tuhan yang menderita di atas kayu salib itu. Lihatlah Ia di sana tergantung dalam palang penghinaan demi kita, kau dan aku, Yohana dan Maxi. Seorang teman yang jauh sekali kadang-kadang lebih dekat daripada teman yang tinggal dekat sekali. Bukankah gunung meja akan nampak lebih indah dan menarik serta jelas kelihatan bagi kita yang berjalan melintasi perbukitan One Kore daripada mereka yang mendiami kaki gunung itu?

Pembicaraan itu meskipun menggunakan bahasa yang sederhana tetapi mengandung harapan yang melambung ke angkasa yang ditaburi bintang mengantarkan rasa rindu pada seorang gadis yang bernama Yohana yang nun jauh di Kupang kota karang namun menyimpan banyak nilai-nilai luhur - ibukota propinsi daerah asalku - tempat aku dihadirkan oleh sang khalik. Kerinduan bukanlah tanpa sebab. Sekian lama aku berkelana dan bermusafir ke negeri yang jauh yang memang terlalu asyik sekaligus asing karena membawa aku mengerti tentang arti hidup sesungguhnya. Betapa tidak, bahwa hidup di tanah orang sungguh melahirkan rasa rindu pada gadis Lio yang dalam pembicaraan dengan dialek bahasa lionya sangat kental. Kapankah Tuhan ijinkan aku pulang pada daerah asalku dan menemui gadis Lio yang anggun dan menawan seperti Yohana yang pernah ku kenal? Ataukah Tuhan Engkau sengaja mempertemukan aku dengan seorang gadis Lio, Yohana, mewakili Yohana-Yahana yang lain seperti saudariku, ibuku, familiku atau juga kekasihku kelak?

Aku pun menyadari bahwa pertemuan seorang mahasiswa akuntansi dengan Yohana seorang mahasiswi jurusan sastra inggris tingkat akhir yang kini sedang sibuk dengan penyusunan skripsinya memang tanpa di sengaja. Pertemuan kami diawali dengan sms, berlanjut via telepon dan akhirnya saling marah karena dasar tidak saling bertemu untuk mengenal secara fisik sekaligus menilai indahnya senyum dan manisnya berceloteh tentang anggunnya gunung Kelindota dan hangatnya sumber air panas yang ada di lembah Detusoko. Masing-masing nampaknya perlu adanya pengertian yang meskipun barangkali sulit terwujud lantaran – sekali lagi – jarak yang memisahkan dua insan. Tetapi aku selalu percaya bahwa setiap detik nadi ini terus berdetak waktu akan tetap mengijinkan kami untuk bertemu walau hanya sesaat, di sana – di Kupang atau di Ende – di mana kami akan saling beradu pandang seperti peristiwa penyaliban Yesus dalam berjumpa dengan ibunya dari atas derita dalam pengorbanan cinta. Yesus manusia Tuhan yang sempurna. Sebagai pengikutNya tentu belajar peristiwa pelayananNya dan menerapkan dalam hidup terutama mengungkapkan cinta pada orang yang dicintai. Tatapan bunda Maria terhadap derita putranya mengingatkan aku bagaimana pertemuanku dengan kekasih asal Lio yang sangat menggetarkan jiwa yang diwujudkan dalam diri seorang gadis atas nama Yohana.

Semenjak pertemuanku dengan Yohana aku sungguh menutup jalan bagi yang lain yakni utasan cinta dan beningnya nurani untuk memiliki seorang perempuan dengan sepenuh hati. Yohana lah yang membawa aku untuk belajar bagaimana untuk saling mencintai. Dan Yohana pula yang mengantarkan aku pada sebuah alam yang banyak ditumbuhi dengan bunga-bunga yang indah. Bunga-bunga cinta. Mawar dan melati adalah bunga kesenanganku karena aromanya sungguh harum mewangi yang juga terpatri dalam diri Yohana gadis Lio sang pemberontak adat yang berpikir maju memperbaiki tatanan kehidupan menuju arah yang dinamis demi hidup yang sejahtera. Adat itulah bahan diskusi kami dalam alunan nada malam, gemerincing dengan lolongan jengkrik serta hantu rahasia tersingkap. Mungkin Yohana adalah segalanya tetapi aku mesti belajar realistis seperti seorang anak yang sedang belajar berbicara. Itu membutuhkan waktu yang cukup dan tidak pernah ada dalam sejarah orang bertemu berlanjut dengan pernyataan “Aku mencintaimu”. Belajar adalah kuncinya dan kesabaran adalah faktor kesuksesan dalam menitik cinta.

Kemarin mungkin dalam sms atau telepon terdengar erangan suara lembut Yohana dan mencoba mengusikku dengan kebohongan yang diciptakan oleh dua manusia – sepasang muda-mudi, Yohana dan Maxi – tetapi itu batas wajar, normal karena rasa rindu adalah jiwa manusia yang tak pernah terpisah dari raganya. Apa yang dialami oleh Yohana juga dialami olehku. Dua manusia yang sedang mencari eksistensi dan jati diri. Dan dua manusia itu pula bersama menanam rasa percaya diri karena yang satu dari dulu selalu mengasingkan diri ke negerinya sendiri dan kini ia mulai keluar dari pertapaan dan mencoba membuka hati untuk mencintai gadis Lio dalam diri Yohana atau pun pada Yohana lain yang namanya menjadi litani khusus bagi hidupnya dan jiwanya menjadi pendamping raga yang membutuhkan keintiman persahabatan. Aku mencintai gadis Lio karena gadis Lio adalah keturunan hawa dalam daerah Ende Lio yang memiliki rahim yang subur dan indah dengan rambut ikalnya. Sehingga tak terpungkiri kalau boleh aku menilai bahwa bening bola mata gadis asal Lio seindah danau kelimutu dan lembah dadanya seperti hamparan perbukitan kampung Ndito yang menawan dan sejuk serta ramping pinggangnya seperti gitar yang dimainkan oleh gitaris ketika sedang bernyanyi di dalam katedral Ende yang artistik. Dan ini aku dapati dalam diri Yohana. Gadis Lio adalah segalanya bagiku apa pun kekurangannya, gadis Lio tetaplah menjadi yang terdepan buatku dalam menabur cinta. Semoga Yohana, engkau memahami dan mengerti makna yang ada di balik ini, hati Maxi sahabatmu yang dipisahkan oleh jarak beribu mil dari Kupang menuju Yogyakarta.

Sabtu, 11 Oktober 2008

Renungam Jiwa


HATIKU, HATIMU DAN HATI KITA
Oleh : Maximus Masa

Setiap hati mendamba hati lain, hati yang bisa diajak untuk bersama-sama meneguk madu kehidupan dan menikmati kedamaian dan sekaligus melupakan penderitaan hidup. Dan hatiku membutuhkan hatimu dalam mengisi kekosongan jiwa, memenuhi kerinduan dengan kasih sayang dan perhatian yang tulus yang diwujudkan dalam kehidupan bersama dalam berbagi suka;tawa, canda, keceriaan, kebahagiaan dan kesenangan serta menuangkan kisah tentang nostalgia masa lalu, impian masa kini dan harapan ke hari depan. Kebersamaan, perekat yang memadukan kita menjadi satu meskipun kita berbeda arah dan tujuan, pikiran dan pandangan, ide dan perasaan. Kita semua adalah satu.
Tak terbayangkan ketika kita melintasi gurun yang tandus dan padang ilalang jiwa yang gersang. Hidup ini menjadi hampa sehingga roh memberontak terhadap badan dan memintanya untuk mencari sumber perlindungan air pelepas dahaga nyanyian jiwa yang telah kusam. Berjalan di tepi kehidupan seorang diri adalah menyedihkan dan menyengsarakan perasaan. Kesepian, kesendirian menjadikan kita terasing dari keramaian dunia. Kecuali seorang petapa yang mencari inspirasi pada indahnya alam dan lolongan burung di udara. Ia menikmati kedamaian dan kemudian kembali ke rumah dengan membawa buah cinta menyepi yang abadi. Sedangkan kita?
Harus kita sadari tentang indahnya kebersamaan, sejuknya perhimpunan dan nyamannya berceloteh tentang cerita kita. Kebersamaan mengantarkan kita pada kehidupan yang damai dan tenang, saling pengertian tercipta di sana dan tiada kesempatan untuk mengungsikan diri ke negeri yang sepi dan membosankan. Dalam kebersamaan kita dapat berbagi peran, mengambil bagian dalam tugas dan tanggungjawab tergantung adakah kemauan di hati kita? Kini, kita semua berkumpul di sini atas nama cinta. Kita tinggal di sini karena cinta yang lahir dari pandangan mata, memikat hingga menggerakkan kita untuk mencoba menyatu di tengah perbedaan yang bergejolak.
Hatiku dan hatimu memiliki kebeningan seperti kristal embun di pagi hari. Hati kita adalah bait rahmat yang tersimpan sumber air yang terus mengalirkan cinta. Hati yang tulus melahirkan harapan dan kekuatan kepada siapa kita mempersembahkan cinta kita. Kepada kedua orangtua kita, saudara-saudara kita, teman-teman kita, pacar kita dan kepada semuanya kita mempersembahkan cinta kita. Kita semua dilahirkan karena cinta. Karena cinta pula kita tumbuh menjadi seorang pemuda dan pemudi. Kita berkumpul di sini untuk menyemaikan beni-beni cinta, cinta yang ada di dasar hati kita.
Untuk itu harapanku, partisipasi pro aktif dari kita semua untuk memajukan diri dan sekaligus melambungkan angan dalam cinta agar tetap eksis di tengah hiruk pikuknya dunia yang sedang mengagungkan hedonisme, individualisme dan egoisme. Mari kita pupuk kebersamaan melalui cinta dalam satu nasib, menyandarkan harapan di bawah kaki salib tanda kerendahan hati anak manusia kepada Dia sang tersalib.

Kisah Cinta yang Tak pernah Tuntas


JANGAN TANYAKAN DIA PERGI

Saatnya bagimu untuk diam. Jangan pernah ada kata menyesal pada lembaran hidupmu. Jangan kau nampak keruk di dahimu. Kepergiannya hanyalah salah satu jalan terbaik untuk memecahkan bebuntuhan yang ada dalam hati yang dilumuri rasa pedih ini. Sekian tahun kau telah bersamanya. Kenangan akan masa-masa indah selalu dan akan selalu terpatri dalam ingatanmu. Namun apa hendak di kata dia lebih memilih jalan lain yang lebih bahagia selain jalan untuk hidup bersamamu. Janganlah kau tangisi karena air mata tidak membuatmu menjadi lebih bahagia selain menoreh luka dalam hatimu. Coba kau menilik kembali akan perjalananmu ketika berjalan bergandengan dengannya atau ketika kau sedang duduk di sampingnya. Apakah ada semacam getaran perasaan ketenangan yang membuatmu menjadi bahagia atau malah sebaliknya yang mengiris duka dalam hatimu. Keputusannya untuk pergi bukanlah tanpa sebab. Dan penyebab itu bukan karena hubungan cintamu tidak menuai seutas benang kebahagian. Sama sekali tidak. Pernah di suatu hari ketika ia mengungkapkan keinginannya untuk menempuh kuliah, ia seolah merasa kuatir hubungan cinta antara kau dengannya akan segera berakhir karena kau tak pernah ada sinyal yang mendukung dalam meraih cita, mengejar angan dan menggapai impian. Cita-citanya.
Dan kekuatiran itu ternyata benar-benar ada. Ia memilih jalan kuliah dan meninggalkan selaksa kenangan dalam hidup bersamamu. Tujuh tahun ketika ia bekerja di perusahaan yang bergerak dalam bidang elektron, ia hidup seperti terkurung dalam lingkaran penjarah. Batinnya tertekan seolah sedang memikul kuk yang teramat berat. Dalam hidupnya selalu ada tanda tanya kapankah cita-cita suci ini akan terwujud jikalau ia tetap berada dalam lingkaran hidup dunia kerja yang tidak jelas akan masa depan ini. Usia tiga puluh dua tahun bukanlah penghambat dalam belajar. Seperti kata orang bijak belajar tidak pernah mengenal usia. Tidak pernah mengenal akan tua dan muda atau tinggi dan rendah, semuanya sama. Toh belajar adalah jalan menuju pintu kesuksesan karena wawasan akan semakin luas dan pengetahuan akan semakin bertambah. Akankah jika ia tetap hidup bersamamu bisa ia tempuh cita-cita yang sejak lama ia dambakan ini? Hanya hatinya yang bisa menjawab. Dan diharapkan agar kau bisa mengerti tapi ternyata kehadiranmu tidak membuatnya bahagia dalam menikmati hidup ini.
Sekarang biarkan ia pergi. Lepaskan tali-tali rindumu supaya ia pergi tidak terhambat oleh aral yang mencoba untuk merintang. Seekor burung ingin mengembangkan sayapnya dan berusaha terbang setinggi mungkin demi menaruh harapan pada hamparan alam, indahnya panorama dan kemudian ia kembali ke sangkarnya dengan membawa semangat untuk hidup sambil melolongkan suaranya yang merdu memuji sang penciptanya. Demikian yang ada pada diri seorang pemuda yang bernama Maxi. Ia pergi untuk menempuh ilmu menjelajah samudera dunia kampus dan mencoba menuai apa yang ditabur oleh para tokoh intelek. Komerntarku bahwa hidupnya sangat unik; semangat dalam mencari jalan untuk keluar dari bayang-bayang kegelapan malam sama halnya seperti ketenangan sumber air yang selalu mengalirkan harapan akan cinta dan kesejukkan atau seperti rembulan malam yang selalu menghiasi malam dengan pancaran cahayanya. Keinginannya dalam hidup adalah menjadikan dirinya lebih bermanfaat dan berguna bagi sesamanya. Apalagi ilmu yang diperolehnya, kini, kelak akan ia bagikan pada orang yang selayaknya sedang membutuhkan pengetahuan akan dunia akuntansi.
Memang sungguh tak terselami. Bagaimana tidak bahwa di usia yang sebenarnya sudah layak untuk membangun hidup berumah tangga tidak ia hiraukan dan lebih memilih pada kemauan dan kehendaknya untuk maju mengarungi samudera kampus yang sejak delapan tahun yang telah lewat ia tinggalkan. Dunia pendidikan ternyata lebih indah dan lebih baik baginya daripada hidup dalam satu keluarga yang dianggapnya tidak bebas dan membosankan karena tenggelam dalam rutinitas yang sama. Sehingga jangan heran jika tujuh tahun ia menjalin tali kasih dengan seorang gadis tidak menjadikan dirinya keluar dari bayang-bayang mata rantai derita yang membelenggu.
Perbedaan watak, karakter, sifat dan cita-cita membuatnya untuk mengakhiri hubungan cinta yang sedang bersemi. Cinta bukanlah segalanya dalam hidup. Cinta yang tidak didasari oleh hati yang tulus dan pengertian yang mendalam itu sama seperti air embun yang tempias dan tergenang di atas daun talas. Ia terombang ambing dan membentuk kristalnya sendiri-sendiri. Dan kemudian jatuh ke tanah yang berdebu lalu hilang tanpa bekas. Pada prinsipnya bahwa cinta harus sebanding dengan aliran pengertian dan niat hati yang tulus. Sehingga bukan saja kata-kata manis yang menimbulkan penderitaan tetapi sekaligus kepahitan yang mengantarnya ke hidup yang penuh pengertian dan ketenangan jiwa. Kepahitan adalah jaminan lestari hubungan cinta. Dan sebaliknya kembang rampai masa pacaran yang dihiasi rayuan dan kata-kata manis adalah awal kehancuran dari petualangan hidup menuju kebahagiaan yang sejak lama setiap orang dambakan. Tujuh tahun semasa kedekatannya dengan seorang gadis timbul kegelisahan yang luar biasa. Setiap malam bayang-bayang kekelaman selalu datang menghantui jiwa. Kegelisahan timbul karena adanya ketakutan yang luar biasa akan kegagalan dalam meraih cita, mengejar angan dan menggapai impiannya.
Kini, tak terasa sudah semester empat ia duduk di bangku Akademi Akuntansi YKPN. Dan kiranya dengan doa yang selalu ia lambungkan pada setiap mana waktu yang tepat ia panjatkan, Tuhan yang ia agungkan mendengarkan dan mengabulkan seluruh rangkaian cita-cita menuju pada satu pujian pada nama-Nya yang akbar. Gusti ora sare mas, berjuanglah…Ia akan selalu mendengarkan dan sekaligus mengabulkan segala permintaan anak-anaknya yang sedang membutuhkan cinta dan kasih sayang.
Selamat berjuang…
Dari aku yang dulu pernah kau cintai dalam kisah cinta kita yang tak pernah tuntas.

Rabu, 03 September 2008

YOHANA OH YOHANA

“YOHANA OH YOHANA”
Oleh : Maximus Masa

Curahkanlah hatimu padaku, curahkanlah!Biarlah semua itu kita jalani bersama dengan nyanyian musim dan celoteh burung di tengah padang ilalang. Mari, kita duduk di bawa pohon pinus di atas perbukitan. Kita nikmati indahnya alam dengan hamparan dedaunan. Kita tempatkan harapan pada hembusan angin perbukitan. Di kala kau menyandarkan kepalamu di bahuku, aku merasa ada sebuah getaran lain, getaran perasaan yang selama ini sedang menghuni ruang hati yang selalu mendambakan hati lain yakni hatimu yang dapat menghibur aku di dalam setiap derap langkahku.Aku tahu selama kedekatan kita tiada untaian kata-kata indah. Tiada yang lebih istimewa kecuali nyanyian kerinduan untuk saling bersama ketika kau terpisah dariku.
Angin perbukitan sangat sejuk. Ia membawa selaksa berita tentang permintaan seorang pemuda, Maxi, agar kau mencurahkan hatimu padanya yang adalah pemuda yang mengagungkan cinta namun pada sisi hidup yang lain kemiskinan mendera hingga tatapan mata ini meredup tak berarti lagi.
Yohana, nampaknya kau begitu tenggelam dalam alunan suara Maxi. Suaranya yang lembut mengantarkan kau pada sebuah pemikiran,”Kemiskinan dan kerja keras yang didampingi cinta jauh lebih baik daripada kekayaan tanpa cinta”. Kata-katamu membuatku menerawang di lorong cakrawala yang jauh dan timbul mega-mega yang aneh meskipun rupa dan bentuknya mengagumkan tetapi kata-kata itu menjadikan aku lebih berani mengatakan,”Aku Cinta Padamu”. Untung kau ada bersamaku sehingga kata-kata yang dipancarkan lewat gelombang suara yang kemudian masuk ke gendang telingamu dan kau seolah merasakan ketenangan jiwa yang dilindungi perisai satu nama : Maxi.
Yohana, semenjak kau melontarkan kata-kata itu, setiap malam imajinasiku melambung menyusuri gelap untuk kembali mengenang masa-masa indah, ketika kau sedang berbicara dengan intonasi suara halus, sehingga pikiranku ini bagaikan pelita yang menerangi malam dan kau seperti malaikat pelindung yang mengepakkan sayapnya di dalam kepalaku melindungi aku dengan gambaran cintamu.
Yohana, kau begitu cantik, tubuhmu begitu ideal, seperti perempuan indo jerman. Senyummu yang menawan hati mengembung dalam deretan pipihmu yang lesung. Tak terbayangkan olehku jikalau kau tinggalkan aku. Mungkin tragedi kesepian melanda sehingga tiada lagi waktu yang tersisa. Entah salah entah benar, hatiku ingin selalu bersamamu dan lebih baik tetap berada di dekatmu dan membiarkan bahuku untuk disandar demi membagi kekuatan dalam mendapatkan perlindungan pada hamparan alam di tepi cakrawala.
Dan kini, aku harus menyingkirkan buku dan melarikan diri menuruni lembah perbukitan yang meninggalkan berjuta kenangan dan mengantarmu pulang pada orangtuamu yang selalu berharap agar cinta anaknya bisa disandingkan dengan seorang pemuda yang jujur, setia, hingga ajal yang dapat memisahkan cinta. Cinta mereka anak-anaknya, Yohana & Maxi.

Rabu, 27 Agustus 2008

Siklus-Siklus Cinta

Siklus-Siklus Cinta
Oleh : Maximus Masa

Mungkin engkau masih ingat ketika camping Rohani setahun silam. Pada malam yang dihembusi dinginnya udara lembah gunung Merapi Panitia MISKAM menyalakan api unggun untuk mengawali pelantikan anggota kepengurusan MISKAM yang baru dan sekaligus mengawali perkenalan kita lewat sebaris poisi yang aku persembahkan untukmu di malam itu. Aku membacakan poisi indah, poisi cinta dalam senja yang merekah kejinggaan. “Di tengah senja yang memancarkan sinarnya yang jingga ku angkat kepalaku dan menatap ke ufuk barat, ku temukan kau dalam angan seperti Venus dewi cinta yang menampakkan dirinya membiarkan aku menatap lebih dalam dengan harapan untuk memiliki walau belum tahu apakah semuanya berakhir pada titik hati yang ajaib membawa seberkas sinar cinta nan abadi”. Beni cinta dan kerinduan merekah seperti semerbak mawar yang dilumuri embun di pagi hari, seperti air yang terus mengalir di sungai hati, ku telusuri meskipun terkadang rasa tak percaya hadir sebagai sarana penghias mezbah hati seorang pemuda sepertiku. Bebatuan, kedangkalan, kedalaman nyaris tak hentinya aku telusuri di sepanjang aliran sungai hati dalam mengapai cinta dan beningnya air sungai Wonolelo pelepas dahaga nyanyian cintaku kepadamu.

Harumnya bunga cinta semerbak di seluruh jagad hati ini. Berkembang seiring dengan perputaran sang waktu. Nampaknya keindahan tak akan berhenti pada titik itu. Di tengah sibuknya diklat jurnalistik, kembali ku goreskan sebaris poisi dan kemudian ku mencoba merenungkan makna yang tersembunyi di balik itu. Lalu ku dapati kau berdiri seperti pilar terang yang menerangi alam pikiranku. Kau adalah lilin kecil yang bernyala di altar hati seorang pemuda yang dari hari ke hari melantunkankan litani namamu’ Santa Kehidupan’ yang terpatri atas nama cinta.

Kemarin, ketika ku sedang berada di atas puncak gunung Lawu, aku berdiri menatap indahnya panorama alam di sekitarnya. Tak diduga obor cinta bayangan dirimu mengusikku untuk merenung. Benarkah cinta yang lahir dari ketulusan harus diwarnai dengan selaksa penolakkan, tertawaan dan pandangan sinis dari seorang perempuan yang dicintai? Sebagai seorang pemuda, selayaknya untuk ditolak, ditertawai dan bahkan pandangan sinis. Perjuangan dan kerja keras sebagai bukti keseriusan yang menandai awal dari rasa tanggungjawab untuk memiliki. Memiliki dirimu.

Di atas puncak gunung Lawu pula, kau seolah sedang menemani diriku. Kau berada bersamaku di Lawu dan tengah bercakap-cakap dengan aku tentang cinta. Saat itu aku berkata dengan kata-kata yang lebih sederhana dan dengan bahasa yang lebih agung dan kau nampak seperti mimpi mendengar kata-kataku dalam alunan suara dengan nada penuh harapan. Karena aku tahu bahwa kau penuh pengertian untuk memahami isi dari segala angan yang ku lambungkan kepada dirimu. Di atas puncak gunung Lawu, kehadiran dirimu mengantarkan aku ke suatu tempat pertapaan yang sunyi sehingga terkesan cintaku kepadamu seperti semakin dekat pada tahta Tuhan dalam ujud syukur tanda kerendahan anak manusia di bawah kaki salib gambaran gunung Lawu yang bersanding dengan puncak gunung Kalvari di mana Yesus merangkul semua anak manusia dengan cinta pengorbanan-Nya yang tulus dan jujur.

Dari semua orang, kau lah yang paling dekat dengan jiwaku. Rohmu dan rohku bersatu sehingga kau adalah yang paling dekat di hatiku. Aku mencintai engkau, namun aku tidak tahu mengapa aku harus mencintaimu. Aku tidak mau tahu itu. Sebab sudah cukup bagiku menyandarkan kepala pada bahumu di kala aku dilanda prahara kesedihan, dihempas badai gelombang kesepian, dan keterasingan dalam kesendirian atau aku sedang mengalami bahagia, senyum, tawa dan canda. Sudah cukup bagiku membawamu ke puncak gunung Lawu sekaligus mengatakan: “Kaulah rekanku, kaulah sahabatku, kaulah temanku”.

Karena kebiasaanku menyapa teman perempuan dengan ‘hallo sayang’, teman-teman bilang aku mencintai orang-orang, dan ada yang mencelaku karena mencintai setiap para gadis. Ya, aku mencintai semua para gadis, aku mencintai mereka dengan tulus dan jujur sepenuh hati. Aku mencintai mereka karena mereka adalah para gadis yang perlu dicintai. Akan tetapi setiap hati punya Qiblah sendiri, setiap hati punya satu arah khusus ke mana ia menoleh ketika hanya sendirian. Setiap hati punya seorang petapa ke mana ia mengundurkan diri untuk mencari hiburan dan kenyamanan.

Setiap hati mendamba hati lain, hati yang bisa diajak untuk bersama-sama mereguk madu kehidupan dan menikmati kedamaian, sekaligus melupakan penderitaan hidup. Sekarang sudah satu tahun waktuku belajar. Aku merasa menemuhkan arah ke mana hatiku menoleh. Dan perasaan milikku ini merupakan sebuah kenyataan. Kenyataan yang membuatku bersikap berani untuk memberontak kepada santo Thomas yang merasa ragu akan kebangkitan Yesus dalam wujud keraguan menyatakan cinta kepadamu yaitu “Aku Mencintaimu”.

Pemberontakan Terhadap Adat

PEMBERONTAKKAN ADAT
Oleh : Maximus Masa

Florentina Olivia Deo Datus, nama lengkapku. Aku berasal dari Flores. Aku memiliki tekad yang kuat untuk menempuh studi di propinsi D.I. Yogyakarta. Dalam kehidupan keseharianku aku sering disapa dengan nama Olivia. Berbeda halnya di rumah yang selalu menyebutku dengan Tina. Aku dibesarkan dalam keluarga adat yang sangat kental. Meskipun tidak tercatat tapi adat seperti sebuah doktrin yang sudah melekat erat di hati sanubari masyarakat. Masyarakat adat. Adat yang menjadikan anak gadis bergerak dalam ruang lingkup yang sangat terbatas ; hanya berada dalam pusaran dapur dengan asap yang mengepul. Perempuan hanya sebagai orang rumahan yang perlu ‘dijaga dengan baik’ karena dalam diri perempuan terutama dalam diri anak gadis terkandung aset dan harga diri para orangtua di hadapan keluarga kaum laki-laki hasil perjodohan yang disandingkan oleh mereka walau cinta hanya sebatas adat. Adat Lio, Flores, dan semua adat daerah lain yang ada di NTT sana memandang perempuan dari segi materi, bukan dari cinta suci buah dari anugerah ilahi dalam diri sepasang kekasih, muda dan mudi.

Aku, Olivia, seorang gadis Lio, mempunyai pikiran yang lain. Pikiran yang bersebrangan dengan tuntutan adat. Bagiku adat tetaplah adat dan tidak merubah nasib untuk menjadi lebih baik kecuali lewat pendidikan dan pengetahuan yang dapat mengantarkan setiap orang ke mahligai kehidupan cinta yang sejati. Bukan adat dan harga diri, prestise tapi prestasi. Prestasi dalam menempuh pendidikan setinggi mungkin. Dengan pendidikan yang baik sudah tentu kehidupan keluarga pun dengan sendirinya akan menjadi damai dan sejahtera karena segala keinginan tercapai, cita-cita terwujud, angan terealisasi. Dan kehidupan menjadi bermanfaat manakala ilmu yang dimiliki dapat ditularkan kepada orang lain terutama anak-anak yang membutuhkan ilmu dan pengetahuan. Aku tidak setuju dan dengan keras menolak pandangan dan pendapat para tetua adat yang menganggap perempuan sebagai subyek dalam kehidupan bermasyarakat. Dengan sikapku yang keras maka kehadiranku menjadi tidak diakui. Ya lebih baik begitu, itulah pikiranku.

Dalam kemelut yang melanda diri, aku, Olivia menumpahkan isi hati pada Romo Eusebius lewat sepucuk surat yang pertama sekaligus yang terakhir karena lewat Romo lah aku menjadi tegar menghadapi berbagai prahara kehidupan ini termasuk niatku yang tulus untuk belajar hingga ke daerah Istimewa Yogyakarta yang akhirnya harus kandas di tengah jalan. Kandas karena adat yang mengaluti pikiran dan hati orangtua yang telah memutuskan keputusan yang salah yang menyandingkan aku dengan laki-laki jeri lelah usaha mereka tanpa bertanya apakah kami saling mencinta atau tidak. Inilah surat yang ku kirim kepada Romo Eusebius :
Romo Eusebius yang saya hormati,

Salam hangat ku ucapkan untuk Romo, karena sudah sekian tahun Romo telah membentuk aku, Olivia, menjadi tegar dalam menghadapi berbagai tantangan hidup ini meskipun kini aku tak sanggup lagi menanggungnya. Mungkin Romo bertanya-tanya mengapa aku menulis surat ini buat Romo dan harus kepada Romo. Tentu saja aku mempunyai alasan yang masuk akal yaitu merubah adat dari yang kaku menjadi lebih fleksibel yang sesuai dengan tuntutan jaman kini.
Romo yang dicintai Tuhan, karena adat, sekali lagi karena adat eksistensiku di tengah segenap keluarga menjadi asing. Adat oleh keluarga menjadi alat prioritas utama untuk menjadikan aku sebagai seorang perempuan yang kuper dan kolot. Yang harus selalu menuruti apa kemauan dan keinginan mereka. Aku tak mau demikian Romo. Romo, aku goreskan surat ini dengan guyuran air mata, ku harap Romo bisa mengerti dengan penderitaan yang sedang ku alami ini. Saat ini Romo, aku ingin menghabiskan hidup ini dengan caraku sendiri karena aku tak sanggup lagi menerima berbagai terpaan masalah yang kian memuncak. Pasti Romo tidak setuju dengan keputusanku tapi apa hendak dikata meskipun Romo telah mengajari ku dengan segudang kebaikkan, ketulusan dan keikhlasan kini aku tidak berdaya lagi. Aku lemah. Perjuangan dan tekadku yang membara harus terhenti di sini, di ujung maut ini.

Romo, sebentar lagi segenap anggota keluarga akan berpesta pora merayakan keberhasilan mereka yang telah menyerahkan aku kepada seorang asing yang tidak aku kenal, laki-laki hasil perjodoan mereka. Mereka minum moke, makan daging, berbicara dengan intonasi adat yang kaku, senyum mengembang tanda kepuasan hati yang telah mengangkat prestise mereka ke atas sanjungan masyarakat dengan pujian yang bagiku sangat menggelihkan. Bagiku Romo, sungguh, ini adalah kekejaman terstruktural yang berwujud adat yang menutupi segala kerakusan dan kepongahan tetua adat dalam menerapkan adat pada tempat dan waktu yang salah. Sampai aku tidak mengerti lagi tentang pemikiran mereka karena sejak awal penolakkan terus aku canangkan. Betapa berat langkah hidup ini. Ingin meraih cita, mengejar angan dan menggapai impian seperti para gadis lain tidak dapat terwujud lantaran ada perintah yang tak terbantahkan dari keluarga agar aku harus segera menikah dengan laki-laki yang dijodohkan oleh mereka. Berat sekali langkah ini! Apakah Romo mempunyai jalan keluar untuk mengeluarkan aku dari kabut awan yang pekat ini sebelum aku mengambil jalan pintas untuk mengakhiri hidup di ujung maut ini?

Segenap anggota keluarga besar telah berkumpul di rumah tua warisan nenek moyang mereka dan membicarakan besarnya belis yang harus diterima seperti emas, kuda, kerbau, sapi, babi, kain, padi, beras dan uang. Rasa kuatirku semakin menjadi-jadi, kengerian yang luar biasa aku rasakan, suasana sangat mencekam membayangkan penderitaan baru yang kian dekat yang akan hinggap di pelupuk mata dan hati yang dilumuri kegelisahan ini. Romo, maafkan aku atas segala kesalahanku. Tak ada lagi jalan lain yang dapat aku tempuh kecuali mati bunuh diri sebagai puncak rasa ketidakberdayaanku sebagai seorang manusia lemah dan rapuh. Maafkan aku Romo! Semoga Tuhan selalu mengampuni aku lewat pengakuan dosa di hadapan Romo bahwa aku mati bunuh diri demi terhindar dari adat buah kerakusan segenap masyarakat yang memandang rendah kaum perempuan yang ditakdirkan dalam diri seorang Olivia.

Berkali-kali HP ku berdering dan nyaris tanpa henti. Berkali-kali itu pula mereka memintaku untuk segera pulang ke rumah, neraka baru dalam lingkaran hidupku. Aku hanya pasrah dan memberontak pada Santo Thomas atas keraguan jarinya dalam menjamah jubah Yesus yang digambarkan dalam drama tragedi kematian bunuh diri. Romo, surat ini adalah yang pertama sekaligus yang terakhir ku tuliskan untuk Romo. Terima kasih atas jasa-jasanya yang telah Romo berikan kepadaku. Tiada kata yang lebih berharga dan lebih indah kecuali ucapan terima kasih lah sebagai jalan terakhir karena memang yang terakhir ku sapa Romo karena sebentar lagi Romo akan mendengar berita kematian seorang perempuan muda yang cantik, Olivia. Kematian dengan jalan ini Romo, akan jauh lebih mengenang. Karena menjadi bahan perbincangan berbagai kalangan dari kelas atas hingga masyarakat adat.

Romo, ku harap Romo dapat menyampaikan salam awal sekaligus akhir dari seluruh rangkaian drama kehidupan ini kepada sanak familiku terutam orangtua tercinta. Bapak dan mama maafkan Tina karena atas kekerasa hati Tina membuat bapak dan mama menderita lahir dan batin. Maafkan Tina. Dan melalui Romo berkat pengampunan mengalir kepadaku dengan sinar ilahinya. Aku harus berakhir di sini sebagai jawaban dari ketidakberdayaanku sebagai seorang anak di hadapan orangtua hingga berujung pada pemberontakan dan mati bunuh diri. Selamat tinggal bapak, mama, kakak, adik dan Romo Eusebius. Doakan aku agar berjalan ke surga tidak tersendat jatuh dalam lembah neraka yang menakutkan. Selamat tinggal…