Minggu, 08 Maret 2009
Rabu, 14 Januari 2009
Dinamika Cinta
YOHANA GADIS LIO YANG DINAMIS
( Maximus Masa )
Pembicaraan yang berlangsung pada malam yang larut melahirkan sebuah harapan baru yang menjadi moment penting dalam mengawali diskusi panjang pada masa yang akan datang. Kiranya pembicaraan yang terjadi tidak menjadi yang pertama di antara kita. Pembicaraan itu penting dalam menuangkan ide sekaligus sebagai tanda untuk mengenal siapa dan bagaimana sebenarnya kita sesungguhnya. Hari kemarin mungkin bagi kita adalah misteri yang syarat dengan selaksa rahasia. Hal ini karena jarak yang membuat kita menjadi makluk yang sedang bersembunyi di balik rahasia kehidupan. Dan rahasia itu baru dapat tersingkap ketika kita memulai untuk bertemu dalam nada persahabatan.
Yohana, gema suaramu dalam getaran deringan telepon bisu menjadikan aku berlayar di samudera raya yang luas. Entah bagaimana suaramu membuatku tenggelam dalam arus jaman yang eksotis sekaligus mengungkap segala apa yang menjadi bagian dalam hidup ini dan apa yang di dalamnya ada kemanisan yang menyakitkan dan kepahitan yang menawan rasa rindu, kau memang ada seorang teman sekaligus sahabat yang sedang belajar menuntun ilmu di daerah Yogyakarta sana. Ia bertekad melindungi dan membelamu dan berharap kau tetap sehat dalam bimbingan kasih Tuhan yang menderita di atas kayu salib itu. Lihatlah Ia di sana tergantung dalam palang penghinaan demi kita, kau dan aku, Yohana dan Maxi. Seorang teman yang jauh sekali kadang-kadang lebih dekat daripada teman yang tinggal dekat sekali. Bukankah gunung meja akan nampak lebih indah dan menarik serta jelas kelihatan bagi kita yang berjalan melintasi perbukitan One Kore daripada mereka yang mendiami kaki gunung itu?
Pembicaraan itu meskipun menggunakan bahasa yang sederhana tetapi mengandung harapan yang melambung ke angkasa yang ditaburi bintang mengantarkan rasa rindu pada seorang gadis yang bernama Yohana yang nun jauh di Kupang
Aku pun menyadari bahwa pertemuan seorang mahasiswa akuntansi dengan Yohana seorang mahasiswi jurusan sastra inggris tingkat akhir yang kini sedang sibuk dengan penyusunan skripsinya memang tanpa di sengaja. Pertemuan kami diawali dengan sms, berlanjut via telepon dan akhirnya saling marah karena dasar tidak saling bertemu untuk mengenal secara fisik sekaligus menilai indahnya senyum dan manisnya berceloteh tentang anggunnya gunung Kelindota dan hangatnya sumber air panas yang ada di lembah Detusoko. Masing-masing nampaknya perlu adanya pengertian yang meskipun barangkali sulit terwujud lantaran – sekali lagi – jarak yang memisahkan dua insan. Tetapi aku selalu percaya bahwa setiap detik nadi ini terus berdetak waktu akan tetap mengijinkan kami untuk bertemu walau hanya sesaat, di
Semenjak pertemuanku dengan Yohana aku sungguh menutup jalan bagi yang lain yakni utasan cinta dan beningnya nurani untuk memiliki seorang perempuan dengan sepenuh hati. Yohana lah yang membawa aku untuk belajar bagaimana untuk saling mencintai. Dan Yohana pula yang mengantarkan aku pada sebuah alam yang banyak ditumbuhi dengan bunga-bunga yang indah. Bunga-bunga cinta. Mawar dan melati adalah bunga kesenanganku karena aromanya sungguh harum mewangi yang juga terpatri dalam diri Yohana gadis Lio sang pemberontak adat yang berpikir maju memperbaiki tatanan kehidupan menuju arah yang dinamis demi hidup yang sejahtera. Adat itulah bahan diskusi kami dalam alunan nada malam, gemerincing dengan lolongan jengkrik serta hantu rahasia tersingkap. Mungkin Yohana adalah segalanya tetapi aku mesti belajar realistis seperti seorang anak yang sedang belajar berbicara. Itu membutuhkan waktu yang cukup dan tidak pernah ada dalam sejarah orang bertemu berlanjut dengan pernyataan “Aku mencintaimu”. Belajar adalah kuncinya dan kesabaran adalah faktor kesuksesan dalam menitik cinta.
Kemarin mungkin dalam sms atau telepon terdengar erangan suara lembut Yohana dan mencoba mengusikku dengan kebohongan yang diciptakan oleh dua manusia – sepasang muda-mudi, Yohana dan Maxi – tetapi itu batas wajar, normal karena rasa rindu adalah jiwa manusia yang tak pernah terpisah dari raganya. Apa yang dialami oleh Yohana juga dialami olehku. Dua manusia yang sedang mencari eksistensi dan jati diri. Dan dua manusia itu pula bersama menanam rasa percaya diri karena yang satu dari dulu selalu mengasingkan diri ke negerinya sendiri dan kini ia mulai keluar dari pertapaan dan mencoba membuka hati untuk mencintai gadis Lio dalam diri Yohana atau pun pada Yohana lain yang namanya menjadi litani khusus bagi hidupnya dan jiwanya menjadi pendamping raga yang membutuhkan keintiman persahabatan. Aku mencintai gadis Lio karena gadis Lio adalah keturunan hawa dalam daerah Ende Lio yang memiliki rahim yang subur dan indah dengan rambut ikalnya. Sehingga tak terpungkiri kalau boleh aku menilai bahwa bening bola mata gadis asal Lio seindah danau kelimutu dan lembah dadanya seperti hamparan perbukitan kampung Ndito yang menawan dan sejuk serta ramping pinggangnya seperti gitar yang dimainkan oleh gitaris ketika sedang bernyanyi di dalam katedral Ende yang artistik. Dan ini aku dapati dalam diri Yohana. Gadis Lio adalah segalanya bagiku apa pun kekurangannya, gadis Lio tetaplah menjadi yang terdepan buatku dalam menabur cinta. Semoga Yohana, engkau memahami dan mengerti makna yang ada di balik ini, hati Maxi sahabatmu yang dipisahkan oleh jarak beribu mil dari Kupang menuju Yogyakarta.
Sabtu, 11 Oktober 2008
Renungam Jiwa
HATIKU, HATIMU DAN HATI KITA
Setiap hati mendamba hati lain, hati yang bisa diajak untuk bersama-sama meneguk madu kehidupan dan menikmati kedamaian dan sekaligus melupakan penderitaan hidup. Dan hatiku membutuhkan hatimu dalam mengisi kekosongan jiwa, memenuhi kerinduan dengan kasih sayang dan perhatian yang tulus yang diwujudkan dalam kehidupan bersama dalam berbagi suka;tawa, canda, keceriaan, kebahagiaan dan kesenangan serta menuangkan kisah tentang nostalgia masa lalu, impian masa kini dan harapan ke hari depan. Kebersamaan, perekat yang memadukan kita menjadi satu meskipun kita berbeda arah dan tujuan, pikiran dan pandangan, ide dan perasaan. Kita semua adalah satu.
Tak terbayangkan ketika kita melintasi gurun yang tandus dan padang ilalang jiwa yang gersang. Hidup ini menjadi hampa sehingga roh memberontak terhadap badan dan memintanya untuk mencari sumber perlindungan air pelepas dahaga nyanyian jiwa yang telah kusam. Berjalan di tepi kehidupan seorang diri adalah menyedihkan dan menyengsarakan perasaan. Kesepian, kesendirian menjadikan kita terasing dari keramaian dunia. Kecuali seorang petapa yang mencari inspirasi pada indahnya alam dan lolongan burung di udara. Ia menikmati kedamaian dan kemudian kembali ke rumah dengan membawa buah cinta menyepi yang abadi. Sedangkan kita?
Harus kita sadari tentang indahnya kebersamaan, sejuknya perhimpunan dan nyamannya berceloteh tentang cerita kita. Kebersamaan mengantarkan kita pada kehidupan yang damai dan tenang, saling pengertian tercipta di sana dan tiada kesempatan untuk mengungsikan diri ke negeri yang sepi dan membosankan. Dalam kebersamaan kita dapat berbagi peran, mengambil bagian dalam tugas dan tanggungjawab tergantung adakah kemauan di hati kita? Kini, kita semua berkumpul di sini atas nama cinta. Kita tinggal di sini karena cinta yang lahir dari pandangan mata, memikat hingga menggerakkan kita untuk mencoba menyatu di tengah perbedaan yang bergejolak.
Hatiku dan hatimu memiliki kebeningan seperti kristal embun di pagi hari. Hati kita adalah bait rahmat yang tersimpan sumber air yang terus mengalirkan cinta. Hati yang tulus melahirkan harapan dan kekuatan kepada siapa kita mempersembahkan cinta kita. Kepada kedua orangtua kita, saudara-saudara kita, teman-teman kita, pacar kita dan kepada semuanya kita mempersembahkan cinta kita. Kita semua dilahirkan karena cinta. Karena cinta pula kita tumbuh menjadi seorang pemuda dan pemudi. Kita berkumpul di sini untuk menyemaikan beni-beni cinta, cinta yang ada di dasar hati kita.
Untuk itu harapanku, partisipasi pro aktif dari kita semua untuk memajukan diri dan sekaligus melambungkan angan dalam cinta agar tetap eksis di tengah hiruk pikuknya dunia yang sedang mengagungkan hedonisme, individualisme dan egoisme. Mari kita pupuk kebersamaan melalui cinta dalam satu nasib, menyandarkan harapan di bawah kaki salib tanda kerendahan hati anak manusia kepada Dia sang tersalib.
Kisah Cinta yang Tak pernah Tuntas
JANGAN TANYAKAN DIA PERGI
Saatnya bagimu untuk diam. Jangan pernah ada kata menyesal pada lembaran hidupmu. Jangan kau nampak keruk di dahimu. Kepergiannya hanyalah salah satu jalan terbaik untuk memecahkan bebuntuhan yang ada dalam hati yang dilumuri rasa pedih ini. Sekian tahun kau telah bersamanya. Kenangan akan masa-masa indah selalu dan akan selalu terpatri dalam ingatanmu. Namun apa hendak di kata dia lebih memilih jalan lain yang lebih bahagia selain jalan untuk hidup bersamamu. Janganlah kau tangisi karena air mata tidak membuatmu menjadi lebih bahagia selain menoreh luka dalam hatimu. Coba kau menilik kembali akan perjalananmu ketika berjalan bergandengan dengannya atau ketika kau sedang duduk di sampingnya. Apakah ada semacam getaran perasaan ketenangan yang membuatmu menjadi bahagia atau malah sebaliknya yang mengiris duka dalam hatimu. Keputusannya untuk pergi bukanlah tanpa sebab. Dan penyebab itu bukan karena hubungan cintamu tidak menuai seutas benang kebahagian. Sama sekali tidak. Pernah di suatu hari ketika ia mengungkapkan keinginannya untuk menempuh kuliah, ia seolah merasa kuatir hubungan cinta antara kau dengannya akan segera berakhir karena kau tak pernah ada sinyal yang mendukung dalam meraih cita, mengejar angan dan menggapai impian. Cita-citanya.
Dan kekuatiran itu ternyata benar-benar ada. Ia memilih jalan kuliah dan meninggalkan selaksa kenangan dalam hidup bersamamu. Tujuh tahun ketika ia bekerja di perusahaan yang bergerak dalam bidang elektron, ia hidup seperti terkurung dalam lingkaran penjarah. Batinnya tertekan seolah sedang memikul kuk yang teramat berat. Dalam hidupnya selalu ada tanda tanya kapankah cita-cita suci ini akan terwujud jikalau ia tetap berada dalam lingkaran hidup dunia kerja yang tidak jelas akan masa depan ini. Usia tiga puluh dua tahun bukanlah penghambat dalam belajar. Seperti kata orang bijak belajar tidak pernah mengenal usia. Tidak pernah mengenal akan tua dan muda atau tinggi dan rendah, semuanya sama. Toh belajar adalah jalan menuju pintu kesuksesan karena wawasan akan semakin luas dan pengetahuan akan semakin bertambah. Akankah jika ia tetap hidup bersamamu bisa ia tempuh cita-cita yang sejak lama ia dambakan ini? Hanya hatinya yang bisa menjawab. Dan diharapkan agar kau bisa mengerti tapi ternyata kehadiranmu tidak membuatnya bahagia dalam menikmati hidup ini.
Sekarang biarkan ia pergi. Lepaskan tali-tali rindumu supaya ia pergi tidak terhambat oleh aral yang mencoba untuk merintang. Seekor burung ingin mengembangkan sayapnya dan berusaha terbang setinggi mungkin demi menaruh harapan pada hamparan alam, indahnya panorama dan kemudian ia kembali ke sangkarnya dengan membawa semangat untuk hidup sambil melolongkan suaranya yang merdu memuji sang penciptanya. Demikian yang ada pada diri seorang pemuda yang bernama Maxi. Ia pergi untuk menempuh ilmu menjelajah samudera dunia kampus dan mencoba menuai apa yang ditabur oleh para tokoh intelek. Komerntarku bahwa hidupnya sangat unik; semangat dalam mencari jalan untuk keluar dari bayang-bayang kegelapan malam sama halnya seperti ketenangan sumber air yang selalu mengalirkan harapan akan cinta dan kesejukkan atau seperti rembulan malam yang selalu menghiasi malam dengan pancaran cahayanya. Keinginannya dalam hidup adalah menjadikan dirinya lebih bermanfaat dan berguna bagi sesamanya. Apalagi ilmu yang diperolehnya, kini, kelak akan ia bagikan pada orang yang selayaknya sedang membutuhkan pengetahuan akan dunia akuntansi.
Memang sungguh tak terselami. Bagaimana tidak bahwa di usia yang sebenarnya sudah layak untuk membangun hidup berumah tangga tidak ia hiraukan dan lebih memilih pada kemauan dan kehendaknya untuk maju mengarungi samudera kampus yang sejak delapan tahun yang telah lewat ia tinggalkan. Dunia pendidikan ternyata lebih indah dan lebih baik baginya daripada hidup dalam satu keluarga yang dianggapnya tidak bebas dan membosankan karena tenggelam dalam rutinitas yang sama. Sehingga jangan heran jika tujuh tahun ia menjalin tali kasih dengan seorang gadis tidak menjadikan dirinya keluar dari bayang-bayang mata rantai derita yang membelenggu.
Perbedaan watak, karakter, sifat dan cita-cita membuatnya untuk mengakhiri hubungan cinta yang sedang bersemi. Cinta bukanlah segalanya dalam hidup. Cinta yang tidak didasari oleh hati yang tulus dan pengertian yang mendalam itu sama seperti air embun yang tempias dan tergenang di atas daun talas. Ia terombang ambing dan membentuk kristalnya sendiri-sendiri. Dan kemudian jatuh ke tanah yang berdebu lalu hilang tanpa bekas. Pada prinsipnya bahwa cinta harus sebanding dengan aliran pengertian dan niat hati yang tulus. Sehingga bukan saja kata-kata manis yang menimbulkan penderitaan tetapi sekaligus kepahitan yang mengantarnya ke hidup yang penuh pengertian dan ketenangan jiwa. Kepahitan adalah jaminan lestari hubungan cinta. Dan sebaliknya kembang rampai masa pacaran yang dihiasi rayuan dan kata-kata manis adalah awal kehancuran dari petualangan hidup menuju kebahagiaan yang sejak lama setiap orang dambakan. Tujuh tahun semasa kedekatannya dengan seorang gadis timbul kegelisahan yang luar biasa. Setiap malam bayang-bayang kekelaman selalu datang menghantui jiwa. Kegelisahan timbul karena adanya ketakutan yang luar biasa akan kegagalan dalam meraih cita, mengejar angan dan menggapai impiannya.
Kini, tak terasa sudah semester empat ia duduk di bangku Akademi Akuntansi YKPN. Dan kiranya dengan doa yang selalu ia lambungkan pada setiap mana waktu yang tepat ia panjatkan, Tuhan yang ia agungkan mendengarkan dan mengabulkan seluruh rangkaian cita-cita menuju pada satu pujian pada nama-Nya yang akbar. Gusti ora sare mas, berjuanglah…Ia akan selalu mendengarkan dan sekaligus mengabulkan segala permintaan anak-anaknya yang sedang membutuhkan cinta dan kasih sayang.
Selamat berjuang…
Dari aku yang dulu pernah kau cintai dalam kisah cinta kita yang tak pernah tuntas.
Rabu, 03 September 2008
YOHANA OH YOHANA
Oleh : Maximus Masa
Angin perbukitan sangat sejuk. Ia membawa selaksa berita tentang permintaan seorang pemuda, Maxi, agar kau mencurahkan hatimu padanya yang adalah pemuda yang mengagungkan cinta namun pada sisi hidup yang lain kemiskinan mendera hingga tatapan mata ini meredup tak berarti lagi.
Yohana, nampaknya kau begitu tenggelam dalam alunan suara Maxi. Suaranya yang lembut mengantarkan kau pada sebuah pemikiran,”Kemiskinan dan kerja keras yang didampingi cinta jauh lebih baik daripada kekayaan tanpa cinta”. Kata-katamu membuatku menerawang di lorong cakrawala yang jauh dan timbul mega-mega yang aneh meskipun rupa dan bentuknya mengagumkan tetapi kata-kata itu menjadikan aku lebih berani mengatakan,”Aku Cinta Padamu”. Untung kau ada bersamaku sehingga kata-kata yang dipancarkan lewat gelombang suara yang kemudian masuk ke gendang telingamu dan kau seolah merasakan ketenangan jiwa yang dilindungi perisai satu nama : Maxi.
Yohana, semenjak kau melontarkan kata-kata itu, setiap malam imajinasiku melambung menyusuri gelap untuk kembali mengenang masa-masa indah, ketika kau sedang berbicara dengan intonasi suara halus, sehingga pikiranku ini bagaikan pelita yang menerangi malam dan kau seperti malaikat pelindung yang mengepakkan sayapnya di dalam kepalaku melindungi aku dengan gambaran cintamu.
Yohana, kau begitu cantik, tubuhmu begitu ideal, seperti perempuan indo jerman. Senyummu yang menawan hati mengembung dalam deretan pipihmu yang lesung. Tak terbayangkan olehku jikalau kau tinggalkan aku. Mungkin tragedi kesepian melanda sehingga tiada lagi waktu yang tersisa. Entah salah entah benar, hatiku ingin selalu bersamamu dan lebih baik tetap berada di dekatmu dan membiarkan bahuku untuk disandar demi membagi kekuatan dalam mendapatkan perlindungan pada hamparan alam di tepi cakrawala.
Dan kini, aku harus menyingkirkan buku dan melarikan diri menuruni lembah perbukitan yang meninggalkan berjuta kenangan dan mengantarmu pulang pada orangtuamu yang selalu berharap agar cinta anaknya bisa disandingkan dengan seorang pemuda yang jujur, setia, hingga ajal yang dapat memisahkan cinta. Cinta mereka anak-anaknya, Yohana & Maxi.